Tuesday, 24 August 2010

Taiwanese Habit

Tulisan ini bukan bermaksud untuk ghibah atau memuja dari rakyat pribumi yang bermata sipit ini, tetapi lebih untuk mengambil manfaat serta pelajaran sehingga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah, dan harapannya dapat sedikit merubah kebiasaan kita sehingga menjadi penduduk yang lebih maju dan berpendidikan. Yang terpenting juga manfaat bagi penulis sendiri, agar tak pernah lupa dengan pengalaman yang telah dijalani serta tetap konsisten dengan idealisme yang dipegang selama ini.

Setelah genap sebulan berinteraksi di bumi formosa (sebutan bagi negara Taiwan), banyak hal yang dialami, ada sedikit keluh kesah dan juga decak kagum. Kebanyakan kebiasaan dari penduduk taiwan patut di contoh, salah satunya mudah untuk diatur. Dari segi kacamata politik, Taiwan belum sepenuhnya merdeka, mereka belum mendapatkan pengakuan dari banyak negara, bahkan di paspor saya masih tertulis Republic of China. Namun, penduduknya tidak merasa resah dengan hal tersebut. Mereka hidup memang seperti di kota maju, memang kondisi masyarakat disini kebanyakan sudah sejahtera makanya gampang untuk diatur. Seperti halnya penduduk di kota-kota maju, di dalam berbagai hal mereka mendahulukan disable person, orang tua, ibu hamil dan anak kecil. Aturan lainnya juga kalau mau jalan lambat kita harus mengambil sebelah kiri dan cepat di sebelah kanan. Kalau mau buang sampah, harus dibedakan mana sambah yang recycle atau ga, dan banyak lagi peraturan yang lazim ada di negara maju. Masyarkat taiwan juga tidak banyak protes, mereka hidup dengan berusaha mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Yang mengherankan masyarakat taiwan seperti di hipnotis untuk hidup teratur, mungkin bagi kita yang agamis yang hidup teratur (semoga) wajar, tapi masyarakat disini pada umumnya tidak beragama, penulis sendiri kadang-kadang merasa malu jika melihat status di ktp.

Kebanyakan masyarakatnya “kutu buku”. Inilah sifat para akademisi dan mahasiswanya. Kebanyakan dari mereka tidak fasih berbahasa inggris atau pas-pasan, tetapi kalau ditanya tentang ilmu pengetahuan yang digelutinya mereka pasti bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Pernah pada saat training yang penulis jalani bersama akademisi di taiwan, kebetulan trainernya dari amerika dan kanada sehingga menggunakan bahasa inggris, dan kebanyakan akademisi taiwan tidak mendengar ulasan dari trainer, mereka sibuk mengutak-atik lamptopnya, tetapi ketika diperiksa, semua tugas yang diberikan siap dikerjakan bahkan ketika ditanya mereka bisa menjawab walaupun dengan bahasa yang pas-pasan. Mereka lebih suka mendalami permasalahan dan memecahkannya sendiri, hanya paman google yang menjadi teman setia.

Gemar berolahraga, mereka memang hobby berolah raga, bahkan terlalu hobby. Di setiap kampus-kampus sarana olahraganya begitu lengkap dan nyaman. Ada yang berolahraga di pagi hari, siang, sore bahkan malam. Pernah pada saat penulis bangun untuk shalat subuh, pas liat ke luar jendela, lewat kakek-kakek sedang joging, Luar biasa.

Dari hasil pengamatan, ada beberapa hal yang menjadi catatan dari rakyat formosa ini yaitu, Amerikan Minded. Kebencian terhadap pemerintah cina menghadapkan mereka ke pemerintah amerika. Dalam museum sejarahnya juga presiden pertama taiwan banyak bekerja sama dengan pihak amerika. Mungkin karena itu masyarakatnya juga tertular menjadi amerikanis. Mereka begitu menyukai basket dan softball. Kalau ada bule dari amrik atau eropa, mereka sangat senang untuk berfoto bersama. Professor-professor disini juga kebanyakan lulusan amrik. Mungkin dari segi politiknya pembaca dapat mengambil makna tersiratnya.

Sering kerja di malam hari. Jangan harap kalau kita mau belanja jam 7 pagi pasar-pasar udah di buka. Atau kalau mau ke kantor 7 pagi jangankan kantornya udah dibuka, busnya pun jarang. Itulah sifat dari penduduk di taiwan. Mereka sering online malam dan paginya tidur, kehidupan baru nampak sekitar jam 9 pagi, ketika matahari sudah dhuha. Mereka bekerja sampai larut malam, istilahnya lembur dan pada paginya balas dendam atau molor. Hehehe. Sebelum tidur biasanya mereka mandi dulu, dan ketika bangun langsung ganti baju pergi ke kantor, tanpa harus cuci muka bahkan mandi.

Cuek, sifat ini hanya ada pada remajanya. Kalau di kereta api atau bus, mereka tidak suka memerhatikan orang lain. Kalau anda berjalan telanjang pun, mungkin tidak banyak yang heran atau memerhatikan anda. Remaja disini pun tidak supel seperti di indonesia, mereka hanya berinteraksi dengan kawan yang sudah mereka kenal saja. Memang hidup di kota maju membuat masyarakatnya tidak peduli dengan sekitar dan hanya berinteraksi sekedarnya saja.

No comments:

Post a Comment