Tuesday, 7 September 2010

Funny Story

Ada cerita lucu tentang pembimbingku di taiwan, dia menceritakan pengalaman pribadinya ketika hendak melamar istrinya. ketika ia masih lajang dan sudah berumur dan ketika orang tuanya menginginkan dia untuk segera menikah, pembimbingku memilih kontes jodoh sebgai tempat memilih pasangan hidupnya. Bagiku aneh sekali ketika seseorang hendak menikah namun belum punya pasangan kemudian memilih wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya melalui sebuah kontes jodoh.

Kontes yang diadakan sekali dalam satu musim tersebut dihadiri oleh semua wanita dan pria yang sudah berumur tapi belum mendapatkan jodoh. Berbagai macam trik pun dilaksanakan, ada yang membagi kartu namanya kepada pasangan tetapi menurut pembimbingku itu adalah cara yang salah, karena ia pernah mencobanya tetapi gagal. Hahaha..

pembimbingku mengikuti kontes ini dua kali, pertama kali ia gagal karena melancarkan trik yang salah, namun yang kedua kalinya ia melancarkan trik yang lain yaitu berinteraksi langsung satu persatu dengan wanita yang ada. Ia mencatat skor berdasarkan penilaiannya kepada wanita tersebut, kemudian ia mengurutkannya dari skor paling tinggi ke paling rendah dan menyimpan alamat email wanita yang memiliki skor 10 terbesar.

Setelah pulang ke rumah, ia mengirimkan email kepada 10 wanita yang menurutnya bagus dan memiliki skor paling tinggi. Katanya hanya sedikit yang membalas email, dari 10 wanita yang ia kirim email hanya 2-3 orang saja yang membalas emailnya. Dan mulailah pertemuan itu, setiap minggu ia menjadwalkan kencan bersama ketiga wanita tersebut. Ia juga mencatat lelucon apa yang ingin dia katakan atau yang sudah ia katakan kepada satu wanita. Dan akhirnya pembimbingku menemukan wanita yang akan menghabiskan seluruh hidupnya bersamanya..

inilah sebagian cerita tentang manusia yang hidup di kota padat dan maju, semuanya hanya memikirkan diri sendiri dan pekerjaannya. Sampai-sampai masalah pasangan hidup pun terabaikan. Banyak dari penduduk sini yang bahkan sampai tua tidak menikah (mungkin tidak berhasil dalam kontes jodoh. Hehehe). Kebanyakan dari penduduk taiwan menikah diatas umur 30an. Memang hidup tidak mempunyai agama yang jelas, tumbuh besar, suka ria, party, kuliah, kerja, menikah, mengurus anak mungkin itulah rutinitas kebanyakan penduduk disini.

Mungkin kita bisa mengambil hikmah dari cerita lucu diatas, tak harus semuanya terpenuhi, seperti kehidupan yang kaya raya, teknologi yang canggih, tetapi kepenuhan batin adalah hal yang melebihi segalanya. Kepuasan beribadah kepada Tuhan, orang yang disayangi dan terpenuhinya tujuan hidup merupakan kepuasan yang melegakan hati.

Semoga menjadi pelajaran..

Wednesday, 1 September 2010

Ledakkan Potensimu

Live is never flat, begitu salah satu moto iklan yang ada. Hidup memang tidak sedatar ataupun securam yang kita kira. Semuanya bergantung pada kemauan dan sejauh apa mimpi yang kita punya. Ada yang mengatakan “tulislah mimpi indahmu dalam kanvas alam nyata ini, agar kami tahu seberapa besarkah mimpi yang kau miliki”. Ceritakan kepada semua orang tentang mimpimu, buat mereka merasakan manfaat keberadaanmu dan bahagia berada di sampingmu.

Kalau mimpimu tentang studi ke luar negeri ada sedikit motivasi yang ingin ku bagi, karena aku merasa bahagia menjadi warga Aceh. Hal inilah yang membuat mahasiswa dari daerah lain cemburu kepadaku. Ketika aku berdiskusi dengan mahasiswa dari berbagai daerah yang sedang melanjutkan studinya di Taiwan. Mereka susah payah untuk memperebutkan beasiswa dari universitas atau pemerintah Taiwan, sedangkan khusus warga Aceh sangat mudah untuk mendapatkan beasiswa terutama dari pemda. Dan sekarang jumlah mahasiswa aceh lebih dari setengah dari jumlah mahasiswa asing yang sedang belajar di taiwan dan mereka tersebar di berbagai universitas di Taiwan. Tak usah berbicara dari segi politik atau yang lainnya, yang penting kesempatan itu terbuka lebar, so mari gan,.. bro.. sis.. ledakkan potensimu, sehingga ledakan itu membuat dirimu terbang ke bumi formosa ini.

Kalau mimpimu menjadi aktifis terkenal yang stiap pernyataan dan tulisannnya dijadikan referensi, Indonesialah tempat yang paling subur untuk mengasah kemampuan orasi dan skill kepemimpinanmu. Karena organisasi massa ataupun organisasi mahasiswa tumbuh subur dalam kalangan masyarakat ataupun di setiap sudut-sudut kampus. Faktor inilah yang juga membuat mahasiswa dari Indonesia lebih siap berjuang dan tinggal di negeri orang ketika hendak melanjutkan studinya, karena kemampuan adaptasinya sudah diasah ketika berada di organisasi kemahasiswaan atau sedang berada di tengah-tengah masyarakat, so sigoe teuk wahei syedara, bek le lalo ngon taheu, ledakkan potensimu.

Mungkin hanya sedikit mimpi yang penulis bagi untuk kali ini, karena resah rasanya kalau tidak mengapdate article di blog ini. Banyak mimpi lainnya yang menurut sebahagian orang menganggap remeh ataupun ada yang menganggap presticious, but its all depends on you. Mungkin menjadi kasir adalah pekerjaan yang didambakan atau lebih tinggi kaa..sirr(seperti di salah satu iklan pelega tenggorokan). Just be yourself and choose your path. Tidak harus mengikuti trend masa kini atau arus yang sedang mengalir, karena ini adalah hidupmu dan hari ini adalah milikmu,..

Tuesday, 24 August 2010

Taiwanese Habit

Tulisan ini bukan bermaksud untuk ghibah atau memuja dari rakyat pribumi yang bermata sipit ini, tetapi lebih untuk mengambil manfaat serta pelajaran sehingga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah, dan harapannya dapat sedikit merubah kebiasaan kita sehingga menjadi penduduk yang lebih maju dan berpendidikan. Yang terpenting juga manfaat bagi penulis sendiri, agar tak pernah lupa dengan pengalaman yang telah dijalani serta tetap konsisten dengan idealisme yang dipegang selama ini.

Setelah genap sebulan berinteraksi di bumi formosa (sebutan bagi negara Taiwan), banyak hal yang dialami, ada sedikit keluh kesah dan juga decak kagum. Kebanyakan kebiasaan dari penduduk taiwan patut di contoh, salah satunya mudah untuk diatur. Dari segi kacamata politik, Taiwan belum sepenuhnya merdeka, mereka belum mendapatkan pengakuan dari banyak negara, bahkan di paspor saya masih tertulis Republic of China. Namun, penduduknya tidak merasa resah dengan hal tersebut. Mereka hidup memang seperti di kota maju, memang kondisi masyarakat disini kebanyakan sudah sejahtera makanya gampang untuk diatur. Seperti halnya penduduk di kota-kota maju, di dalam berbagai hal mereka mendahulukan disable person, orang tua, ibu hamil dan anak kecil. Aturan lainnya juga kalau mau jalan lambat kita harus mengambil sebelah kiri dan cepat di sebelah kanan. Kalau mau buang sampah, harus dibedakan mana sambah yang recycle atau ga, dan banyak lagi peraturan yang lazim ada di negara maju. Masyarkat taiwan juga tidak banyak protes, mereka hidup dengan berusaha mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Yang mengherankan masyarakat taiwan seperti di hipnotis untuk hidup teratur, mungkin bagi kita yang agamis yang hidup teratur (semoga) wajar, tapi masyarakat disini pada umumnya tidak beragama, penulis sendiri kadang-kadang merasa malu jika melihat status di ktp.

Kebanyakan masyarakatnya “kutu buku”. Inilah sifat para akademisi dan mahasiswanya. Kebanyakan dari mereka tidak fasih berbahasa inggris atau pas-pasan, tetapi kalau ditanya tentang ilmu pengetahuan yang digelutinya mereka pasti bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Pernah pada saat training yang penulis jalani bersama akademisi di taiwan, kebetulan trainernya dari amerika dan kanada sehingga menggunakan bahasa inggris, dan kebanyakan akademisi taiwan tidak mendengar ulasan dari trainer, mereka sibuk mengutak-atik lamptopnya, tetapi ketika diperiksa, semua tugas yang diberikan siap dikerjakan bahkan ketika ditanya mereka bisa menjawab walaupun dengan bahasa yang pas-pasan. Mereka lebih suka mendalami permasalahan dan memecahkannya sendiri, hanya paman google yang menjadi teman setia.

Gemar berolahraga, mereka memang hobby berolah raga, bahkan terlalu hobby. Di setiap kampus-kampus sarana olahraganya begitu lengkap dan nyaman. Ada yang berolahraga di pagi hari, siang, sore bahkan malam. Pernah pada saat penulis bangun untuk shalat subuh, pas liat ke luar jendela, lewat kakek-kakek sedang joging, Luar biasa.

Dari hasil pengamatan, ada beberapa hal yang menjadi catatan dari rakyat formosa ini yaitu, Amerikan Minded. Kebencian terhadap pemerintah cina menghadapkan mereka ke pemerintah amerika. Dalam museum sejarahnya juga presiden pertama taiwan banyak bekerja sama dengan pihak amerika. Mungkin karena itu masyarakatnya juga tertular menjadi amerikanis. Mereka begitu menyukai basket dan softball. Kalau ada bule dari amrik atau eropa, mereka sangat senang untuk berfoto bersama. Professor-professor disini juga kebanyakan lulusan amrik. Mungkin dari segi politiknya pembaca dapat mengambil makna tersiratnya.

Sering kerja di malam hari. Jangan harap kalau kita mau belanja jam 7 pagi pasar-pasar udah di buka. Atau kalau mau ke kantor 7 pagi jangankan kantornya udah dibuka, busnya pun jarang. Itulah sifat dari penduduk di taiwan. Mereka sering online malam dan paginya tidur, kehidupan baru nampak sekitar jam 9 pagi, ketika matahari sudah dhuha. Mereka bekerja sampai larut malam, istilahnya lembur dan pada paginya balas dendam atau molor. Hehehe. Sebelum tidur biasanya mereka mandi dulu, dan ketika bangun langsung ganti baju pergi ke kantor, tanpa harus cuci muka bahkan mandi.

Cuek, sifat ini hanya ada pada remajanya. Kalau di kereta api atau bus, mereka tidak suka memerhatikan orang lain. Kalau anda berjalan telanjang pun, mungkin tidak banyak yang heran atau memerhatikan anda. Remaja disini pun tidak supel seperti di indonesia, mereka hanya berinteraksi dengan kawan yang sudah mereka kenal saja. Memang hidup di kota maju membuat masyarakatnya tidak peduli dengan sekitar dan hanya berinteraksi sekedarnya saja.